Duel Persib Bandung kontra Persija Jakarta selalu disebut big match dalam kompetisi Tanah Air. Hal itu bisa terlihat dari animo masyarakat kedua daerah selalu memanaskan situasi menjelang laga kedua tim seperti yang akan terjadi dalam lanjutan Torabika Soccer Chamlionship presented IM3 Ooredoo di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (05/11/2016).Bobotoh dan The Jakmania selalu bersilang pendapat di media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Dari warung kopi hingga televisi nasional pembahasan kedua tim pun sangat ramai baik dari sisi suporter, catatan pertandingan terakhir kedua tim maupun kehidupan ekonomi rakyat yang ikut naik.

Saat pertandingan Persib kontra Persija disiarkan pada putaran pertama, Direktur PT Gelora Trisula Semesta (GTS), Joko Driyono menyebut rating pertandingan Persib melawan Persija menjadi yang tertinggi.

Persib kontra Persija mampu mengalahkan sinetron yang sedang digandrungi masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dengan catatan 101,1 poin dan menorehkan share televisi tertinggi sebesar 49,4 persen.

Menarik untuk dicermati, apakah benar laga melawan Persija itu adalah pertandingan gensi dan patut dilabeli big match untuk Persib? Bahkan pada era sekarang, ada juga yang melabeli El Clasico. Bola.com mencoba menggali hal itu dari legenda Persib yang sukses mempersembahkan gelar bagi Maung Bandung pada tahun 1994, Yudi Guntara.

Sejarah sepak bola Indonesia mencatat, pertandingan klasik dan berlabel big match bagi Persib adalah melawan PSMS Medan. “Batch Persib Bandung itu bukan melawan Persija,” kata Yudi Guntara Rabu (02/11/2016).

Yudi membeberkan sejumlah alasan mengapa duel Persib versus Persija tak bisa setiap saat dilabeli sebagai big match.

“Persib vs Persija hanya ramai dibicarakan. Kenapa? Karena adanya rivalitas suporter kedua tim, Viking dan The Jakmania. Menurut saya perseteruan mereka saja yang membuat panas setiap pertandingan Persib melawan Persija, jadi terkadang esensi sepak bola dalam laga itu kurang terangkat,” katanya.

Lantas tim mana yang menjadi lawan Persib Bandung sehingga pertandingan itu layak disebut big match di Indonesia. Bukan Arema Cronus, juga bukan PSM Makassar, apalagi tim-tim Jawa Timur lainnya. Tapi, lawan itu adalah PSMS Medan.

Menurut Yudi Guntara laga melawan PSMS Medan adalah laga yang paling ditunggu sejak jaman Galatama hingga Perserikatan. Ia menambahkan, kalau saja PSMS Medan itu masih ada di pentas tertinggi sepak bola nasional di mana Persib berada, setiap pertemuan kedua tim bisa dikatakan sebagai partai klasik bak Real Madrid kontra Barcelona.

“Faktor jumlah suporter juga berpengaruh. Bobotoh Persib itu bukan hanya di Jawa Barat saja, tapi ada di provinsi Banten juga. Sementara Jakmania juga banyak yang di luar Jakarta,”

Menurut Yudi Guntara ketika Persib bersua PSMS, maka penonton akan disajikan dengan seni sepak bola yang indah di mana Persib Bandung selalu tampil dengan gaya khas penguasaan bola dan tiki taka, serta kualitas individu pemain. Sedangkan PSMS Medan selalu tampil dengan gaya permainan ngotot serta keras sehingga perpaduan dua gaya permainan kedua tim itu selalu memikat dan enak ditonton.

“Lawan klasik, big match Persib adalah lawan PSM Medan, legenda banget kalau lawan PSMS Medan. Karena sejarah mencatat Persib itu beberapa kali bertemu dengan PSMS Medan di partai final Perserikatan. Ada adu penalti juga mewarnai final Persib lawan PSMS Medan,” ujarnya.

“Malah hingga saat ini, rekor penonton terbanyak yang hadir di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta masih dipegang bobotoh yang menyaksikan pertandingan final Persib lawan PSMS Medan tahun 1985 penonton yang hadir kurang lebih 150.000. Jadi, sesungguhnya big match Persib itu lawan PSMS Medan bukan lawan Persija Jakarta,” kata Yudi Guntara.

Menurut dia, terlalu banyak drama yang tidak penting dalam laga Persib versus Persija, sehingga kualitas pertandingan di lapangan tidak diperhatikan penonton.

Sayang sekali, Persib sudah lama tak bersua PSMS Medan setelah tim Ayam Kinantan terdegradasi ke Divisi Utama pada musim 2011-2012. Kalau pun kedua tim bertemu, tidak ada rivalitas suporter yang memanaskan situasi. Menurut Yudi, Persib vs PSMS bila bertanding lagi hanya akan nikmat bagi penggemar sepak bola lawas.

Sementara, penikmat sepak bola era sekarang lebih sibuk berperang komentar di media sosial, terutama menjelang laga Persib Bandung melawan Persija.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY