Munculnya dua calon ketua umum PSSI yakni mantan Panglima TNI, Moeldoko, dan Pangkostrad, Edy Rahmayadi, dikhawatirkan menimbulkan gesekan pada pemilihan jajaran anggota eksekutif (exco) PSSI yang akan dihelat pada kongres di Jakarta 10 November mendatang.

Untuk itu, kedua calon yang punya latar belakang TNI itu diharapkan bersatu untuk agar pelakasaan kongres berjalan kondusif. Pernyatan itu disampaikan Ketua PSSI Asprov Jabar, Duddy S Sutandi. Dia berharap ada musyawarah untuk menyatukan kedua calon tersebut.

“Saya selaku Ketua Umum Asprov PSSI Jawa Barat merasa perlu menyampaikan sikap dan pendirian saya dalam rangka menghadapi Kongres PSSI 2016. Pertama, menyangkut kandidasi dua elite TNI kita, bagi saya, kedua tokoh itu sebelumnya saling menghargai, layaknya sebagai kakak beradik. Antara senior dan junior, bahkan sebagai pimpinan dan bawahan, kini mereka justru terjebak dalam skenario pengkubuan yang memiliki kepentingan,” kata Duddy kepada INILAHCOM, Rabu (26/10/2016).

Duddy ingin para pemilik suara untuk menahan diri dan sejalan dengan Asprov PSSI Jabar menyatukan keduannya melalui musyawarah yang harus digelar sebelum perhelatan kongres PSSI.

“Betul, voters memiliki kedaulatan dalam memilih ketua organisasi, tapi voters juga harus bijaksana dalam membaca fenomena perseturuan dua petinggi TNI yang bisa saja berdampak buruk bagi TNI dan PSSI. Musyawarah dilakukan untuk menetapkan keputusan bersama,” ujarnya.

“Harus ada pihak yang menjaga kehormatan dan nama besar keduanya dan harus ada pihak yang berpikir bahwa kedua tokoh ini memiliki minat, niat, energi, potensi, dan pengaruh yang sangat besar dalam melakukan pembenahan sepak bola di tanah air tercinta ini,” pungkasnya. (Inilah)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY