PSSI membantah tuduhan K-85 yang kesulitan mencari hotel karena kas sedang kosong. “Omong kosong,” demikian kata Anggota Exco Toni Apriliani.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kelompok 85 (K-85), heran dengan pernyataan PSSI yang kesulitan mencari hotel sebagai venue kongres. Padahal penyelenggaraan kongres akan dimulai dua pekan lagi. Juru Bicara K-85, GH Sutejo, menduga kalau itu cuma alasan PSSI dan menyebut kondisi sebenarnya adalah kas atau dana PSSI sedang kosong.

Tony Apriliani selaku anggota Exco membantah keras tuduhan tersebut. Menurutnya, K-85 lebih baik membantu ketimbang berbicara omong kosong seperti itu.

“Pertama urusan tempat adalah urusan kami, federasi. Jika K-85 mau ikut bantu, ya bantu saja. Jangan terus ada prediksi enggak ada duit, itulah inilah. Buat apa menduga-duga apalagi orang-orang yang di sana (K-85) adalah mantan Exco juga. Itu kan seperti mengaca pada dirinya sendiri,” kata Toni kepada detikSport, Kamis (27/10/2016).

“Yang kedua, masalah anggaran kami sudah siap kok. Anggaran kami ada. Segala macam kami sudah prepare hanya memang lokasinya saja yang belum. Jadi bukan dicari-cari loh. Boleh di cek deh, ke hotel seperti hotel JW Marriot sampai Mulia, mereka rata-rata sudah full booking. Apa itu main-main?”

“Memang bisa saja ada hotel yang menutup diri dengan alasan keamanan. Mungkin saja mereka berpikir jangan-jangan saat berlangsung kongres ribut atau ricuh, jadi menutup diri, kan bisa saja. Tapi kan kami juga memberikan jaminan dengan mengajak Mabes Polri ke sananya (saat pesan hotel). Jadi memang lokasinya saja yang belum dapat dan bukan masalah anggaran kosong. Bullshit (omong kosong) itu,” sambungnya.

Menurut Toni, PSSI setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp 4-5 miliar untuk menggelar kongres berkaca pada penyelenggaraan kongres beberapa bulan lalu.

“Jadi kalau dihitung dua hari satu malam plus makan malam besar dan sarapan memang sekitar Rp 4-5 miliar. Apalagi jumlah pesertanya juga lumayan banyak 500-an orang. Karena perhitungan kami, anggota yang wajib datang ada 107 orang x 2 ( ketua dan sekretarisnya). Kemudian tim peninjau dan non-voter yang ikut berpartisipasi seperti dari divisi utama dan lainnya sekitar 150 orang. Itu belum ditambah panitia dan exco dan panitia di Makassar. Mereka kami ajak juga ke Jakarta. Jadi kurang lebih sekitar itu jumlah orangnya,” paparnya.

Toni pun merasa tidak perlu meminta bantuan kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) karena yang bersangkutan pun tidak punya dana cukup.

“Kemenpora kewalahan tidak ada uang, kemudian sedang disclaimer. Dua tahun berturut-turut tidak pandai mempertanggung jawabkan keuangan. Ya kita jaga-jagalah jangan sampai kita terseret-seret. Monggo silakan teman-teman K-85 yang ingin minta-minta ke Kemenpora,” ungkap dia.

Meski demikian, Toni tetap optimistis kongres bakal bisa digelar meski menyisakan waktu dua minggu lagi.

“Dua minggu ini tidak ada masalah. Kan tinggal menggeser saja tidak harus dari titik nol lagi, tidak dari titik kick off. Jadi tinggal memindahkan saja.”

“Dan sekali lagi bagi teman-teman yang menyebut K-85, tidak boleh berpikir negatif, tidak boleh menduga-duga, kalau mau bantu, bantulah dengan sebaik-baiknya. tidak membuat gaduh terus. Kami memang belum dapat hotel dan memang belum menentukan,” pungkasnya. (Detik)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY